Aisyah Jamela

Hanyalah seorang wanita biasa Yang dilahirkan dan dibesarkan di-Desa. Yang jauh dari kebisingan Kota. Alumni UIN Medan Sumatera Utara Tamat tahun 1992. Seja...

Selengkapnya
Navigasi Web
167. Keputusan Pak CEO Yang Bijaksana

167. Keputusan Pak CEO Yang Bijaksana

167. Keputusan Pak CEO Yang Bijaksana.

Tadi malam usai azan Isya mencoba posting tulisan untuk tantangan hari ke 166 namun tak berhasil. Akupun masuk ke kamar putriku minta tolong posting pakai ponselnya namun tetap tidak bisa. Ku coba lewat tiga ponsel milik ketiga buah hatiku tetap juga tidak bisa. Akupun pasrah dan pukul 23.00 Wib ku tinggalkan kamar putriku.

Di kamarku aku mencoba tidur tapi tetap tidak bisa tidur. Pikiran tertuju ke Gurusiana. Pergantian waktu dari detik ke menit terus saja dalam pantauan dan membuat rasa kantuk hilang. Ketika jarum jam menunjukkan pukul 00.00 Wib, aku terdiam sejenak dan dalam hati berdoa semoga ada keputusan bijaksana dari Pimpinan Utama Gurusiana karena kesalahan sistem meski mungkin kami yang rada teledor tidak mau posting di pagi hari.Akupun mencoba memejamkan mata.

Azan shubuh berkumandang, aku terbangun dan hal utama yang aku lakukan adalah meraih ponselku berharap ada pemberitahuan yang menggembirakan. Ku buka Gurusiana dan bisa sejenak setelah itu Gurusiana ngambek lagi. Kemudian aku buka fb Media Guru dan aku membaca status teman-teman yang bernasib sama denganku. Aku terdiam dan dalam hati aku berkata "Ya sudahlah nggak apa-apa kalau memang harus seperti itu, meski ada rasa kecewa tapi ya sudahlah toch tujuan utamanya menulis jadi ya lanjutkan sajalah,".

Putra bungsuku bertanya padaku, apakah aku masih tetap menulis setelah terjun bebas, aku tersenyum dan ku jawab akan tetap menulis. Kedua putriku yang tadi malam ikut begadang memantau Gurusiana merasa optimis bahwa aku nggak akan terjun bebas karena kesalahannya di sistem.

Sementara putri sulungku yang di Medan mengirim pesan melalui WA mempertanyakan tentang kabarku terjun bebas atau tidak. Aku jawab nggak tau karena belum ada keputusan. Putri sulungku juga yakin bahwa pasti tidak remidi karena kesalahan di sistem bukan di sinyal atau ponsel. Keempat buah hatiku ikut dag dig dug der menunggu keputusan penguasa nomor satu Gurusiana. Mungkin mereka sudah membayangkan gimana sakitnya terjun bebas dari ketinggian 165 dan mereka jugalah yang sering mengingatkanku untuk posting jadi mungkin ada juga rasa kecewa di bathin mereka melihatku terjun bebas.

Akhirnya, Alhamdulillah dapat kabar dari ibu Sri Rahayu senior kami di Langkat bahwa kami tidak remidi karena kesalahan di sistem tapi kami dapat sangsi karena kami teledor meski sampai saat ini kami belum tau apa sangsinya.

Ku sampaikan berita ini kepada keempat buah hatiku dan mereka terlihat bahagia. Alhamdulillah sangat bersyukur pada Allah akhirnya tidak remidi dan tidak terjun bebas. Terima kasih Pak CEO, sungguh ini keputusan yang sangat bijaksana. 

 

Langkat 29 Juni 2020.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

search

New Post